Wisatawan Ramai, Mengapa Hotel di Bali Mengeluh Sepi?

Wisatawan sedang berlibur di salah satu objek wisata di Bali. Foto: Kemenpar.

Denpasar (Lokapalanews.com) – Bali kembali menjadi destinasi favorit wisatawan domestik dan mancanegara setelah pandemi mereda. Data menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata melonjak sehingga disebut overtourism, Namun, di balik angka yang menjanjikan ini, ada keluhan dari para pelaku usaha perhotelan dan vila di Bali yang justru mengalami keterisian kamar yang rendah. Lantas mengapa hal itu bisa terjadi?

Dosen Program Studi Pariwisata Stispol Wira Bhakti Denpasar, Dr. Dewa Agus Yuda Ariawan, S.E., M.Si., Rabu (2/4) menyebutkan, fenomena ini terjadi karena adanya perubahan pola wisatawan. Artinya, wisatawan masa kini khususnya generasi muda atau backpacker, cenderung memilih akomodasi yang lebih fleksibel seperti homestay, guest house, atau penginapan berbasis Airbnb yang lebih terjangkau dibanding hotel berbintang dan vila mewah. “Mereka juga lebih memilih pengalaman autentik di daerah lokal dibanding menginap di tempat-tempat mewah,” katanya.

Di samping itu, kata Dewa Ari, adanya persaingan ketat dari akomodasi alternatif yang ditunjang pertumbuhan platform seperti Airbnb dan vila pribadi yang disewakan secara langsung oleh pemiliknya melalui media sosial. Penginapan berbasis Airbnb adalah akomodasi yang disewakan oleh pemilik properti kepada wisatawan melalui platform Airbnb yang merupakan pasar online untuk menyewakan rumah, apartemen, vila, atau kamar pribadi. Model ini berbeda dengan hotel atau vila konvensional karena lebih fleksibel dan sering kali lebih terjangkau.

“Dengan harga yang sering kali lebih murah dan fasilitas yang lebih menarik, banyak wisatawan lebih memilih akomodasi ini dibanding hotel konvensional. Ini tentu saja menekan tingkat okupansi hotel,” katanya.

Sementara itu, Bali kini makin populer sebagai destinasi digital nomad. Banyak pekerja jarak jauh memilih tinggal di co-living space atau apartemen sewa jangka panjang yang menawarkan harga lebih kompetitif dibanding hotel. Fenomena ini membuat hotel kehilangan pangsa pasar dari wisatawan yang biasanya menginap dalam jangka waktu lama. “Beberapa hotel dan vila di Bali menaikkan harga mereka untuk menutupi kerugian akibat pandemi. Namun, wisatawan saat ini lebih cermat dalam memilih akomodasi, mencari yang sesuai dengan anggaran mereka. Jika harga hotel dan vila dianggap terlalu mahal, mereka akan beralih ke opsi yang lebih ekonomis,” katanya.

Sementara itu, Cokorda Istri Mas Kusumaningrat, S.S., M.Hum., menambahkan, saat ini banyak wisatawan lebih memprioritaskan anggaran untuk pengalaman wisata, seperti kuliner, atraksi budaya, dan aktivitas luar ruangan, dibandingkan dengan menghabiskan uang untuk akomodasi. Hal ini membuat mereka mencari penginapan yang lebih murah dan mengalokasikan dana mereka untuk hal lain.

Menurut Kaprodi Pariwisata Stispol Wira Bhakti ini, untuk menghadapi tantangan ini, hotel dan vila perlu beradaptasi dengan tren wisatawan saat ini. Beberapa strategi yang bisa diterapkan pemilik hotel dan vila di Bali adalah menawarkan paket bundling dengan pengalaman wisata unik, menyesuaikan harga agar lebih kompetitif dengan akomodasi alternatif serta mengoptimalkan pemasaran digital dan memperluas promosi ke segmen digital nomad.

“Dengan langkah-langkah inovatif dan adaptasi terhadap tren terbaru, hotel dan vila di Bali dapat kembali menarik minat wisatawan dan meningkatkan tingkat okupansi mereka di tengah persaingan yang semakin ketat,” katanya. *R101

Lokapalanews.com adalah salah satu media online di Indonesia hadir dengan sajian informasi yang aktual, informatif, inspiratif, dan mencerahkan di tengah derasnya aliran informasi yang tak jelas kebenarannya.