Jejak Langkah Sang Pahlawan: Mengenang Pendaratan I Gusti Ngurah Rai di Pantai Yeh Kuning

Laut pagi di Pantai Yeh Kuning, Desa Pekutatan, Jembrana, tak pernah kehilangan suaranya. Ombaknya seakan membawa pesan lama dari sejarah yang tak lekang dimakan waktu. Di tempat inilah, 79 tahun silam, sosok muda bernama I Gusti Ngurah Rai dan Pasukan Sunda Kecil menginjakkan kaki, setelah menantang gelombang dan bahaya demi satu kata: kemerdekaan.

Hari ini, tanggal 5 April, bukan sekadar angka dalam kalender. Ini adalah hari ketika keberanian, tekad, dan cinta pada tanah air mendarat bersama debur ombak. Bukan dengan kapal besar atau perlengkapan mewah, tetapi dengan sampan sederhana, layar kain, dan semangat yang membara lebih dari gelora laut itu sendiri.

Wakil Ketua Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Bali, I Wayan Sudarta, mengisahkan bahwa I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya hendak mendarat pada 4 April 1946 dari Pelabuhan Muncar, Banyuwangi. Namun takdir menulis babak lain – perahu bocor di tengah laut. Mereka kembali ke Muncar, menyusun ulang harapan. Esok harinya, 5 April, mereka berangkat lagi dan akhirnya, mendarat di pantai ini, tempat suci perjuangan itu bermula.

Dari pesisir Jembrana, Ngurah Rai dan pasukannya memulai perjalanan berat melewati hutan-hutan menuju Munduk Malang, Tabanan. Di sanalah, di tengah dinginnya embun pagi dan lebatnya dedaunan, mereka mendirikan Dewan Perjuangan Rakyat Sunda Kecil – sebuah gerakan perlawanan atas titah Republik.

Senjata mereka tak banyak. Beberapa disembunyikan dalam perahu-perahu nelayan yang menyamar. Tapi semangat mereka? Tak terhitung. Sekitar 700 orang ikut dalam ekspedisi itu. Dan dari semua rombongan, hanya satu kapal yang berhasil mendarat tanpa bentrok: kapal yang ditumpangi I Gusti Ngurah Rai.

“Pasukan Kapten Markadi sempat terlibat kontak senjata dengan Belanda di perairan Gilimanuk. Tapi Ngurah Rai selamat karena kembali ke Muncar. Itu bukan sekadar keberuntungan, tapi naluri dan taktik seorang pejuang sejati,” kata Wakil Ketua LVRI Jembrana, I Ketut Sumber.

Dalam peringatan tahun ini, tabur bunga dilakukan dengan penuh penghormatan. Doa-doa dilantunkan. Buku Perjuangan I Gusti Ngurah Rai diserahkan kepada masyarakat sebagai pengingat bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dihidupi.

“Hari ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah cara kita berbicara kepada mereka yang telah gugur: bahwa kita tidak lupa, dan tidak akan pernah berhenti melanjutkan perjuangan mereka,” ujar Ketut Sumber.

Pantai Yeh Kuning hari ini tetap bergemuruh. Tapi bukan hanya karena angin atau ombak. Ia bergemuruh oleh kenangan, oleh doa, dan oleh tekad anak bangsa untuk terus melangkah, sebagaimana dahulu langkah itu dimulai – oleh seorang pejuang muda bernama I Gusti Ngurah Rai. *r101

 

Lokapalanews.com adalah salah satu media online di Indonesia hadir dengan sajian informasi yang aktual, informatif, inspiratif, dan mencerahkan di tengah derasnya aliran informasi yang tak jelas kebenarannya.